. . .
Sehijau Coklat*

Dimana kita saat presiden kita dihujat?

beningtirta:

Beberapa di antara kamu pernah dengar atau lihat bahwa tanda pagar #ShameOnYou SBY sempat jadi trending topic di Twitter—sebuah wadah microblogging yang akhir-akhir ini jadi idaman di antara sosial media lainnya dalam hal pencarian informasi. Beberapa di antara kamu baru saja tahu, atau tidak mau tahu.

#ShameOnYouSBY bisa diartikan dengan sederhana menjadi “memalukan kamu SBY”. Kenapa beliau harus di-“memalukan”?

Fenomena ini tentu berkaitan dengan pengesahan UU Pilkada beberapa waktu lalu. Perwakilan Partai Demokrat—dimana SBY jadi ketua umumnya—walkout saat pengambilan suara untuk pengesahan RUU Pilkada. Walkout itu sebuah sikap sadar, saya hargai itu. Para kader Demokrat juga punya alasan yang prinsipil untuk keputusan mereka ini.

Lalu, mengapa SBY jadi sasarannya?

Ini sebuah latah atau (maaf) kebodohan para netizen. Zaman sekarang begitu ringannya kabar “buruk” bergulir dan terpropaganda bersama kelatahan pengguna media. Para pengguna media merasa keren bila telah ikut berbagi pandangan terkait isu hangat arus utama yang sayangnya tanpa filter. Berita buruk dan baik sama saja. Malah ironisnya, berita buruk dan olok-olok menjadi jenis “berbagi pandangan” yang lebih seksi. Bisa dibilang sekarang itu mencaci menjadi keren.

SBY jadi kambing hitam pengguna media—atau dalam hal ini para buzzer sampah rasionalitas yang jadi biangnya—atas sikap yang diambil para kader demokrat. Betapa rentannya netizen Indonesia pada isu yang diangkat buzzer. Betapa dangkalnya sebagian netizen yang mengamini keterkaitan kinerja SBY dan sikap politik pada kader Demokrat, yang harusnya kita pikir terlebih dahulu, “Apa iya SBY pantas untuk disalahkan?” Lalu, jika iya, “Apakah cara mempermalukan beliau cukup ampuh?”

Olok-olok di media telah jadi budaya. *pahit memakai kata “budaya” di sini* Mungkin ini perkembangan dari Twitter dulu hanya sekadar digunakan sebagai tong sampah pribadi—mengumpati keadaan personal dan sosial. Di saat mengobrol politik itu seksi, maka para “pengumpat” ikut-ikutan pula.

*

Dari paparan singkat di atas, ada beberapa poin yang bisa saya rangkum untuk diamalkan setelah ini:

1) jangan latah dong, kita kan punya akal yang seharusnya digunakan untuk membedakan mana yang baik dan buruk, benar dan salah

2) rasional dikit dong, masa kita dangkal sekali mengaitkan hal-hal yang sekadar terdengar masuk akal

3) mari menggunakan media sosial lebih sering untuk hal-hal besar dan substansial, jangan latah dan sok keren ikutan arus utama

4) mari refleksi sebelum bicara, karena kita sungguh tidak berhak mengumpati seorang pemimpin yang telah mewakafkan waktunya untuk negeri ini sebelum kita sudah menjadi warga negara ideal seperti yang ada di pikiran kita

5) dan sudah saatnya kita membuat Twitter imun dari virus-virus yang disebar oknum, dan terakhir,

6) mari santun dalam berpendapat.

Ya Tuhan, aku tak memintamu untuk mengurangi bebanku. Aku hanya meminta, kuatkanlah punggungku, tuk menahan segala beban ini.
Mengapa harus takut akan persaingan, atau kehilangan? Bukankah apa yang sudah digariskan untuk milik kita tak akan ada seorang pun, kuasa apa pun, yang dapat merebutnya dari tangan kita? Dari tanganNya? Dari tangan Sang Waktu?
Rindu itu sebenarnya sangat sederhana. Ia hanya ingin melihat, atau kalau tak dapat dipenuhi, ia hanya ingin mendengar suara. Kalau keduanya tak dapat juga diperoleh, sekadar ditanya “bagaimana kabarmu” pun sudah cukup. Sangat sederhana, bukan?
One who does not sacrifice anything, they won’t get anything

Thought via Path

Kalau katanya hidup itu tak perlu banyak teman (tapi aku benar benar ingin punya banyak teman :D), apalagi 90% punya potensi menikam dari belakang dan 10% (tak apa 10% saja yang baik, 10% ini diambil dari 7.777 orang hehe) kualitasnya tak diragukan.

Aku mau jadi bagian dari 10% yang kualitasnya tak diragukan. Lebih dulu menjadi teman yang ‘kualitasnya tak diragukan’ daripada menunggu teman ‘menunjukkan kualitasnya’ baru memberikan kualitas yang sama.

Hari esok tidak ada yang tahu. Berusaha menjadi sebaik-baiknya teman yang bermanfaat bagi temannya yang lain. Urusan balas-membalas kebaikan biarkan jadi urusanNya. :)

"Kita cenderung menuntut orang lain untuk berbuat sesuai dengan keinginan kita, tapi melupakan prinsip paling penting dalam pergaulan: memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan." - Diambil dari Buku Halaqah Cinta – Read on Path.

Pada malam gelap kita terlelap. Waktu pagi baru berjingkat kita tercekat. Tuhan di mimpi ke mana pergi. Selamanya atau sementara saja.
tausendsunny:

ridhwanah:

taufiqsuryo:

sitaelanda:
soliloquyspeech:


Kalau aku ga memulai duluan, bukan aku ga tertarik sama kamu. Indikator ketertarikanku padamu bukan dari situ. Karena aku emang jarang banget untuk memulai duluan.
Aku tertarik padamu jika aku menjawabmu dengan cepat, penuh antusias dan berusaha menjaga percakapan itu agar tidak akan berakhir (selalu bertanya).
Aku membiarkanmu untuk selalu memulai, agar aku tau seberapa kamu ingin mengobrol denganku.
Jika suatu ketika aku memulai duluan, itu berarti aku membutuhkanmu. :)

uhuuuuk (numpang batuk)
indrikhairatip kangen ih

haha… nod nod

Semacem bener x)

haha *siul siul* 

*kalem* .____.

tausendsunny:

ridhwanah:

taufiqsuryo:

sitaelanda:

soliloquyspeech:

Kalau aku ga memulai duluan, bukan aku ga tertarik sama kamu. Indikator ketertarikanku padamu bukan dari situ. Karena aku emang jarang banget untuk memulai duluan.

Aku tertarik padamu jika aku menjawabmu dengan cepat, penuh antusias dan berusaha menjaga percakapan itu agar tidak akan berakhir (selalu bertanya).

Aku membiarkanmu untuk selalu memulai, agar aku tau seberapa kamu ingin mengobrol denganku.

Jika suatu ketika aku memulai duluan, itu berarti aku membutuhkanmu. :)

uhuuuuk (numpang batuk)

indrikhairatip kangen ih

haha… nod nod

Semacem bener x)

haha *siul siul* 

*kalem* .____.

(Source: psychofactz, via andinavika)

Karena tulisan mampu menyampaikan rasa saat lisan terkunci tak berdaya.
Apa pun, siapa pun yang ditakdirkan untuk kita, pasti akan dijagaNya dengan sangat baik. Hati manusia dan masalah perasaan memang dibiarkanNya menjadi kehendak bebas, tapi Dia akan menghentikan kejadian-kejadian, pertemuan-pertemuan, yang tak sejalan dengan garis yang telah ditetapkanNya.
Ketika Tuhan seakan mempersulit, pernahkah kamu berpikir bahwa sebenarnya Dia sedang menyelamatkanmu dari hal buruk? Dari hal yang mungkin akan membuatmu celaka?
Kita selalu ingin Semesta mendukung. Tapi apakah kita sendiri mendukung diri sendiri untuk menjadi manusia yang lebih baik, yang selalu mempunyai tujuan baik?
Ketika kita berubah menjadi lebih baik, orang-orang di sekitar kita juga akan ikut berubah. Yang lalu nggak merasa nyaman dengan perubahan itu, nantinya akan menyingkir dengan sendirinya.

Passionate addict, ENFJ - Saya mencintai permainan kata-kata berperasaan terlalu berlebihan, menyukai awan yang bergantung di langit alunan, hijau dan coklat yang berpendaran, mendoakan kamu dalam-dalam dan mengaminkan 'kita' diam-diam.